Kuda Penari

Pertama kali Bart bercerita kepadaku tentang kudanya,
Dude,
aku tahu bahwa di antara mereka ada sebuah ikatan yang khusus.
Akan tetapi, aku tidak pernah menyangka bahwa
Dude akan mengirimiku sebuah hadiah yang mengesankan.

Karena dibesarkan dalam sebuah keluarga petani turun-temurun di Tennessee,
Bart sayang kepada semua hewan.
Tapi Dude,
seekor kuda tunggang berwarna cokelat kemerahan
yang diterimanya ketika ia menginjak usia sembilan tahun,
menjadi hewan kesayangannya.

Bertahun-tahun kemudian
ketika ayah Bart menjual Dude,
Bart memendam kesedihan yang luar biasa.
Bahkan sebelum bertemu dan menikah dengan Bart,
aku tahu betul rasanya memendam kesedihan.
Karena pekerjaan ayahku,
keluarga kami harus pindah setiap tahun.

Jauh di dalam hatiku,
aku ingin bisa menetap di satu tempat,
sehingga aku dapat menjalin persahabatan yang cukup lama.
Tapi aku tidak pernah mengungkapkannya kepada orangtuaku.
Aku tidak ingin melukai hati mereka.
Namun, kadang-kadang aku ragu
apakah Tuhan dapat terus mengikuti kami.

Pada suatu malam musim panas tahun 1987,
ketika Bart dan aku sedang berayun di sebuah kursi gantung
di beranda depan rumah kami,
tiba-tiba suamiku bercerita,

"Pernahkah aku bercerita
bahwa Dude pernah memenangkan Kejuaraan Dunia Racking Horse?"

"Kejuaraan rocking horse?" tanyaku.

"Racking," kata Bart membetulkan sambil tersenyum ramah.
"Semacam tarian khusus untuk kuda.
Keterampilan ini memerlukan latihan yang lama.
Kita harus menggunakan empat buah tali kekang.
Sulit sekali."
Bart mengarahkan pandangannya ke padang penggembalaan.

"Dude menjadi kuda terbaik dalam perlombaan ini."
"Lalu mengapa kau membiarkan ayahmu menjualnya?" tanyaku menyelidik.
"Aku sama sekali tidak menduga bahwa ia akan melakukannya," jelas Bart.
"Ketika usiaku tujuh belas,
aku beberapa lama bekerja dalam bidang konstruksi di Florida.
Mungkin Ayah mengira aku tidak akan berkuda lagi,
maka ia menjual Dude tanpa meminta pendapatku dahulu.
Kau tahu bahwa bergerak dalam usaha peternakan ini
berarti orang harus selalu membeli dan menjual kuda.

"Aku selalu terpikir tentang apakah kuda itu merindukanku
sebagaimana rasa kehilangan yang kurasakan.
Aku tidak pernah mempunyai keberanian untuk mencoba menemukannya.
Aku tidak akan tahan kalau sampai tahu andaikata nasibnya buruk..."
Suara Bart seperti hilang ditelan angin.

Setelah itu, beberapa malam berlalu,
namun Bart tidak pernah menyinggung masalah Dude lagi.
Aku ikut berduka mendengar ceritanya.
Aku tidak tahu harus berbuat apa.
Pada suatu petang ketika aku sedang berjalan di padang penggembalaan,
sebuah pikiran aneh muncul dalam benakku.
Seolah-olah ada sebuah suara halus berbisik dalam hatiku,
"Lori, coba carikan Dude untuk Bart."

Sungguh sesuatu yang mustahil! pikirku.
Aku tidak tahu apa pun tentang kuda,
apalagi untuk mencari dan membelinya.
Itu keahlian Bart.

Makin keras aku berusaha menghalau pikiran itu,
makin kuat desakan yang kurasakan.
Aku tidak berani menceritakan kejadian ini kepada siapa pun kecuali Tuhan.
Setiap hari aku meminta kepada-Nya untuk membimbingku.

Pada suatu Sabtu pagi,
tiga pekan setelah bisikan pertama untuk mencari Dude,
seorang pembaca meter, Pak Parker, datang
ketika aku sedang bekerja di kebun.
Entah bagaimana aku terlibat dalam percakapan yang akrab.
Ketika ia bercerita bahwa ia pernah membeli seekor kuda dari ayah Bart,
aku memotong.

"Ingatkah Anda nama kuda itu?" tanyaku.
"Tentu," kata Pak Parker.
"Dude. Saya membelinya dua ratus lima puluh dolar."

Aku membersihkan debu dari tanganku
dan langsung melompat berdiri, tanpa sempat mengatur napas.

"Tahukah Anda nasib kuda itu?" tanyaku.
"Ya. Saya menjualnya lagi dengan keuntungan yang lumayan."

"Di manakah Dude sekarang?" tanyaku.
"Saya harus me-nemukannya."

"Itu tidak mungkin," jelas Pak Parker.
"Saya menjual kuda itu bertahun-tahun lampau.
Bahkan sekarang mungkin ia sudah mati."

"Tapi... bersediakah Anda mencoba membantu saya menemukan kuda itu?"

Setelah aku menjelaskan situasinya,
Pak Parker menatapku dengan tajam cukup lama.
Akhirnya, ia setuju untuk ikut mencari Dude,
dan berjanji tidak mengatakan apa pun kepada Bart.

Setiap Jumat selama hampir satu tahun,
aku menelepon Pak Parker
untuk mengetahui apakah upayanya telah menghasilkan sesuatu.
Tiap minggu jawabannya sama,
"Maaf, belum ada kabar."

Pada suatu Jumat aku menelepon Pak Parker dengan sebuah gagasan lain.
"Dapatkah Anda menemukan salah satu turunan Dude untuk saya?"
"Wah, itu mustahil," jawabnya sambil tertawa.
"Dude seekor kuda kebiri."

"Tidak jadi soal," sahutku.
"Saya tidak keberatan menda-patkan anak kuda kebiri."

"Ah, rupanya Anda belum paham."
Pak Parker menerangkan bahwa kuda kebiri adalah
kuda yang tidak dapat membuahkan keturunan.

Sesudah itu tampaknya ia melipat-gandakan upayanya untuk menolongku.
Beberapa pekan kemudian, ia meneleponku pada hari Senin.

"Saya menemukannya," teriaknya.
"Saya menemukan Dude."
"Di mana?" Aku sampai ingin melompat-lompat karena kegirangan.
"Di sebuah peternakan di Georgia," kata Pak Parker.
"Ada keluarga yang membeli Dude untuk anak remaja mereka.
Tapi mereka tidak bisa berbuat apa pun dengan kuda itu.
Bahkan, mereka mengira kuda itu gila.
Mungkin berbahaya.
Pasti Anda dapat memperolehnya kembali dengan mudah sekali."

Pak Parker benar.
Aku menelepon keluarga itu di Rising Fawn, Georgia,
dan membuat penawaran untuk membeli Dude kembali
dengan harga tiga ratus dolar.
Aku berjuang untuk menjaga rahasia ini sampai akhir pekan.

Pada hari Jumat,
aku menyambut Bart di depan pintu sepulangnya dari bekerja.

"Maukah kau ikut denganku?" bujukku selembut mungkin.
"Aku mempunyai sebuah kejutan untukmu."
"Sayang," protes Bart, "aku lelah."

"Tolonglah, Bart,
aku telah menyiapkan bekal untuk piknik.
Pasti menyenangkan.
Aku janji."

Bart masuk ke dalam Jeep.
Waktu mengemudi, jantungku berdegup begitu kencang
sampai kupikir akan meledak ketika aku berusaha menutupinya
dengan obrolan seputar masalah keluarga.

"Ke mana tujuan kita?"
tanya Bart setelah lewat dari tiga puluh menit.

"Sebentar lagi sampai," jawabku.
Bart mengeluh.
"Sayang, aku mencintaimu.
Tapi aku tidak percaya mengapa kau kubiarkan membawaku ke mari."

Aku tidak melawan.
Aku telah menunggu begitu lama
dan tidak ingin mengacaukannya menjelang saat-saat terakhir.

Kendatipun demikian,
ketika aku berbelok ke luar dari jalan raya,
masuk ke sebuah jalan tak beraspal,
Bart begitu marah sehingga tidak mau diajak bicara.
Dan ketika aku berbelok lagi ke jalan yang lebih buruk,
Bart melotot dengan marah.

"Kita sudah sampai," kataku,
sambil berhenti di depan pagar sebuah padang penggembalaan.

"Di sini di mana? Lori,
apakah kau tidak waras?" bentak Bart.

"Jangan berteriak," kataku. "Bersiul."
"Apa?" teriak Bart.
"Bersiul," ulangku.
"Seperti yang dahulu sering kau lakukan...
untuk memanggil Dude...
Bersiul sajalah.
Kau akan mengerti dengan sendirinya."

"Baiklah...
Aku... Aku pikir ini gila,"
geram Bart sambil turun dari Jeep.

Bart bersiul.
Tidak terjadi apa pun.
"Ya, Tuhan," kataku dalam hati,
"jangan sampai gagal."

"Coba sekali lagi," desakku.
Bart bersiul sekali lagi.
Tiba-tiba, dari tepi cakrawala,
seekor kuda berderap kencang.
Belum lagi aku sempat membuka mulut,
Bart telah melompati pagar.

"Dude!" teriaknya,
sambil berlari memburu sahabat tersayangnya.

Dengan pandangan kabur, aku melihat kuda dan suamiku bertemu
seperti tayangan gerak lambat adegan pertemuan di televisi.

Bart langsung melompat ke punggung sang sahabat,
mengusap bulu tengkuknya, dan menepuk-nepuk lehernya.

Tiba-tiba, seorang remaja pengunyah tembakau,
berambut cokelat kekuningan, beserta orangtuanya,
muncul dari balik bukit dengan wajah tidak senang.

"Tuan," teriak sang remaja. "Apa yang Anda perbuat?
Kuda itu gila.
Tidak ada yang sanggup menjinakkannya."

"Tidak," sahut Bart.
"la tidak gila. Namanya Dude."

Yang mengejutkan semua orang,
dengan perintah lembut dari Bart,
Dude, si kuda liar, menjulurkan kepalanya ke atas dan mulai menari.
Sementara kuda itu beraksi sambil berkeliling,
tidak ada yang bicara.
Ketika Dude selesai menarikan tarian kegembiraannya,
Bart meluncur turun dari punggungnya.

"Aku ingin membawa Dude pulang," katanya.
"Aku tahu," kataku dengan mata berkaca-kaca.
"Semua urusan telah kuselesaikan.
Kita dapat kembali lagi untuk mengambilnya."

"Tidak," tegas Bart.
"la pulang malam ini juga."

Aku menelepon iparku,
lalu mereka datang membawa trailer untuk mengangkut kuda.
Kami membayar harga Dude kemudian pulang ke rumah.

Bart menghabiskan malam itu di kandang.
Aku tahu ia dan Dude perlu waktu banyak untuk saling melepas rindu.
Waktu memandang ke luar melalui jendela kamar tidur,
bulan terasa memancarkan cahaya hangat ke seluruh peternakan kami.
Aku tersenyum,
mengingat aku dan suamiku sekarang mempunyai sebuah cerita indah
untuk diceritakan kepada anak-anak dan cucu-cucu di masa mendatang.




"Terima kasih, Tuhan," bisikku.
Kebenaran telah menyentuhku.
Aku mencari Dude lebih lama daripada masa tinggalku di satu tempat.
Tuhan telah menggunakan proses pencarian kuda kesayangan suamiku
untuk memperbarui kepercayaanku kepada seorang teman
yang terus berada lebih dekat daripada saudaraku sendiri.

"Terima kasih, Tuhan," bisikku lagi menjelang terlelap.
"Terima kasih karena Engkau tidak pernah melepaskan pengawasanmu
terhadap Dude—
atau aku sendiri."

Lori Bledsoe

No comments:

Post a Comment