Penjual kue

Selesai berlibur dari kampung,
saya harus kembali ke kota.
Mengingat jalan tol yang juga padat, saya menyusuri jalan lama.
Terasa mengantuk,
saya singgah sebentar di sebuah restoran.
Begitu memesan makanan,
seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan.

"kakak mau beli kue?"
Katanya sambil tersenyum.
Tangangnya segera menyelak daun pisang yang menjadi
penutup bakul kue jajaannya.

"Tidak dik....kakak sudah pesan makanan," jawab saya ringkas.
dia berlalu.
Begitu pesanan tiba, saya terus menikmatinya.
Lebih kurang 20 menit kemudian saya melihat anak tadi
menghampiri pelanggan lain,
sepasang suami istri sepertinya.
Mereka juga menolak, dia berlalu begitu saja.

"kakak sedang makan , tak mau beli kue saya?"
katanya tenang ketika menghampiri meja saya.

"kakak baru selesai makan dik, masih kenyang nih,"
kata saya sambil menepuk-nepuk perut.
Dia pergi, tapi cuma disekitar restoran.
Sampai di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh.
Setiap yang lalu ditanya....

"Tak mau beli kue saya bang..pak. kakak atau ibu."
Molek budi bahasanya.

Pemilik rstoran itu pun tak melarang dia
keluar masuk ke restorannya menemui pelanggan.
Sambil memeperhatikan, terbersit rasa kagum dan kasihan
di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh
kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang
ditemuinya enggan membeli kuenya.

Setelah membayar harga makanan dan minuman,
saya terus pergi ke mobil.
Anak itu saya lihat berada agak jauh di deretan kedai yang sama.
Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menutup pintu.
Belum sempat saya menghidupkan mesin,
anak tadi berdiri di tepi mobil.
Dia menghadiahkan sebuah senyuman.
Saya turunkan cermin.
Membalas senyumannya.

"kakak sudah kenyang,
tapi mungkin kakak perlukan kue saya untuk adik-adik kakak,
ibu atau ayah kakak," katanya sopan sekali sambil tersenyum.
Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul
dengan menyelak daun pisang penutupnya.
Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja.
Terpantul perasaan kasihan di hati.
Lantas saya buka dompet,
dan mengulurkan selembar uang Rp 20.000,-
saya ulurkan padanya.

"Ambil ini dik!
kakak sedekah ....tak usah kakak beli kue itu."
saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan meningkat mendadak.
Anak itu menerima uang tersebut,
lantas mengucapkan terima kasih
terus berjalan kembali ke kaki lima deretan kedai.
Saya gembira dapat membantunya.

Setelah mesin mobil saya hidupkan .
Saya memundurkan.
Alangkah terperanjatnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp 20.000,-
pemberian saya itu kepada seorang pengemis yang buta kedua-dua matanya.
Saya terkejut saya hentikan mobil,
memanggil anak itu.

"Kenapa kak mau beli kue kah?" tanyanya.

"Kenapa adik berikan duit kakak tadi pada pengemis itu?
Duit itu kakak berikan untuk adik!"
kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.

"kak saya tak bisa ambil duit itu.
Emak marah kalau dia tahu saya mengemis.
Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah.
Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang,
sedangkan jualan masih banyak,
mak pasti marah.
Kata mak mengemis adalah kerja orang yang tak berupaya,
saya masih kuat kak!" katanya begitu lancar.

Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu.
Tanpa banyak soal saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.

"kakak mau beli semua kah?" dia bertanya dan saya cuma mengangguk.
Lidah saya kelu mau berkata.
"Rp 25.000,- saja kak....."
Selepas dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik,
saya ulurkan Rp25.000,-.
Dia mengucapkan terima kasih dan terus pergi.
Saya perhatikan dia hingga hilang dari pandangan.

Dalam perjalanan,
baru saya terfikir untuk bertanya statusnya.
Anak yatim kah?
Siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan mendidiknya?
Terus terang saya katakan ,
saya beli kuenya bukan lagi atas rasa kasihan,
tetapi rasa kagum dengan sikapnya
yang dapat menjadikan kerjanya suatu penghormatan.
Sesungguhnya saya kagum dengan sikap anak itu.




Dia menyadarkan saya,
siapa kita sebenarnya.

Makhluk Asing di Internet

Berbaik-hatilah,
sebab setiap orang yang kaujumpai
sedang menghadapi perjuangan yang lebih hebat.

Plato


Andy belum pernah bertemu langsung dengan Joey,
padahal Joey adalah sahabat karibnya.
la berkenalan dengan Joey melalui Internet.
Di sekolah, saat istirahat siang,
Andy suka bermain Star Wars dengan Kevin dan Rob,
tapi yang membuat permainan-permainan Star Wars-nya. menyenang-kan adalah
hal-hal menarik yang dipelajarinya tentang sistem solar dari Joey.

Joey tidak bersekolah.
la mendapat pelajaran di rumah.
Kalau saja Joey masuk ke sekolahku di Portland ini.
Aku pasti tidak akan bosan,
sebab dia pintar sekali, pikir Andy.

Minggu lalu, guru Andy, Bu Becker,
membuat gambar lingkaran besar di papan tulis.
Katanya itu pai pizza.

"Andy," katanya,
"kalau aku hendak memotong pizza itu,
kau mau mendapat sepertiga atau sepersepuluhnya?"

Sepuluh lebih besar daripada tiga,
jadi Andy memilih mendapatkan sepersepuluhnya.
Kevin melambai-lambaikan tangan sambil berseru
bahwa ia pilih mendapat sepertiganya.

Mrs. Becker menggambar garis-garis pada lingkaran itu,
menunjukkan bahwa bagian Kevin lebih besar daripada bagian Andy.

"Andy akan kelaparan," goda Kevin.
Sandra, anak perem-puan yang duduk di belakang Andy, mulai tertawa.
Lalu seisi kelas ikut tertawa.
Mudah-mudahan bel istirahat cepat berbunyi, pikir Andy.
la ingin main sendirian selama istirahat,
tidak dengan Kevin dan Rob.

Bu Becker menenangkan kelas dengan suaranya yang tegas.
"Andy, kaulihat, kan,
semakin banyak kau membagi kue itu, semakin kecil potongan-potongannya?"
"Ya, Bu," Andy berdusta.

Bel istirahat baru berbunyi setengah jam kemudian.
Bu Becker telah memberikan dua puluh soal matematika,
tentang pecahan.

Di setiap soal ada dua angka pecahan,
dengan lingkaran kosong di tengahnya.
Pada lingkaran itu, murid-murid diminta menuliskan tanda > lebih besar daripada,
atau < lebih kecil daripada. Melihat soal-soal itu, Andy merasa pusing. la memutuskan bahwa ia punya kemungkinan fifty-fifty untuk menebak tanda mana yang akan dipilihnya. Maka ia mengisi dengan menebak-nebak, dan ia salah. Sepulang sekolah, Andy menghubungi Joey dan mengetik, "Aku payah dalam matematika hari ini. Aku tidak mengerti tentang pecahan. Tidak tahu mana yang lebih besar." Joey membalas, "Ada cara yang mudah. Kalikan silang saja dari bawah." Lalu ia menunjukkan caranya pada Andy di drawing board. "Lima kali dua sama dengan sepuluh. Tiga kali empat sama dengan dua belas. Sepuluh lebih kecil daripada dua belas." Cara itu mudah dimengerti oleh Andy. Minggu berikutnya, ketika Bu Becker mengadakan ulangan tentang pecahan, hanya Andy yang mendapat nilai seratus. Sejak itu seisi kelas tidak lagi menganggap Andy bodoh. Berkat Joey. Setelah menjadi sahabat karib, Andy meminta Joey mengirimkan fotonya. Andy juga akan mengirimkan fotonya untuk Joey. Tim Little League Andy sudah dipotret dalam pakaian seragam mereka, dan Andy berpose dengan memanggul tongkat pemukul di bahunya. Sebelum mengirimkan foto itu pada Joey, Andy berpikir, Aku boleh juga di foto ini. Kelihatannya sangat atletis. Lalu foto itu dikirimkannya pada Joey di Tallahassee, dan ia menunggu Joey balas mengirimkan fotonya. Setiap hari, kalau sedang mengobrol dengan Joey di Internet, Andy bertanya apakah Joey sudah menerima kiriman fotonya. Pada hari ketiga, Joey berkata, "Fotomu sudah ku-terima. Bagus sekali. Trims." "Baguslah," sahut Andy. "Kalau begitu, tidak lama lagi aku juga akan menerima fotomu." Tapi foto Joey tak pernah datang, dan setiap kali mereka mengobrol, Andy berkata, "Fotomu belum datang. Mungkin sebaiknya kaukirimkan lagi." Aneh sekali. Tidak ada foto dan tidak ada komentar dari Joey. Joey cuma mengganti topik pembicaraan. Lalu, suatu hari, ketika mereka sedang mengobrol tentang Star Wars dan makhluk-makhluk asing, Andy bertanya pada Joey, "Bagaimana kalau di bumi ini benar-benar ada makhluk asing yang menyamar? Seperti di acara TV Third Rock from the Sun, atau buku My Teacher's an Alien?" Lama sekali sebelum Joey menjawab di layar, "Kau bisa menyimpan rahasia?" "Bisa," sahut Andy. "Janji? Ini penting sekali!" "Ya, aku janji." "Aku ini makhluk asing dari galaksi lain. Itu sebabnya aku tidak bisa mengirimkan fotoku. Medan energiku tak bisa ditangkap oleh film." Andy terpaku memandangi layar komputernya. Ibunya memanggilnya untuk makan malam, tapi akhirnya Joeylah yang mengundurkan diri lebih dulu, sementara Andy masih terpaku di depan komputernya. Apa ini salah satu lelucon joey? Kenapa dia tidak mengirimkan fotonya? Itukah sebabnya dia jauh lebih banyak tahu daripada anak-anak lainnya tentang pesawat angkasa luar dan angkasa luar itu sendiri? Kenapa dia begitu penuh rahasia? Saat makan malam, Ayahnya berkata, "Ada kabar bagus! Permintaanku untuk dipindahkan sudah disetujui. Kita akan pindah ke kantor pusat di Denver pada akhir bulan ini. Perusahaan sudah menemukan rumah sewa yang bagus untuk kita, dekat dengan sekolah yang bagus untuk Andy. Rumahnya besar, cukup untuk membawa Nenek tinggal bersama kita." Ibu Andy senang, sebab selama ini ibunya tinggal di panti werdha di Denver, sejak mengalami patah tulang pinggul karena jatuh. la ingin Nenek tinggal bersama mereka. Andy merasa bingung. Malam itu, di tempat tidur, Andy membayangkan menjadi anak baru di sekolah yang baru. Aku ingat bagaimana rasanya waktu kami baru pindah kemari. Susah sekali mendapat teman-teman baru. Rasanya semua orang memandangiku pada hari pertama, dan anak-anak lain memperlakukanku secara berbeda, sampai mereka mengenalku. Itulah yang ada dalam pikirannya sebelum ia tertidur. Keesokan paginya, Andy duduk di dapur, makan sereal. Ibunya sedang menonton TV Seorang pembawa berita sedang mewawancarai seorang wanita di Tallahassee, Florida. "Bisa Anda ceritakan tentang peran Internet dalam kehidupan Joey?" tanya si pembawa berita. "Internet telah memberikan kebebasan yang sebelumnya tidak pernah dikenal Joey. Dia bukan saja bisa mendapatkan informasi dari kursi rodanya, tapi yang paling penting, dia mempunyai teman-teman baru." Si pembawa berita meneruskan, "Ceritakan tentang teman-temanmu di Internet, Joey." Kamera beralih pada seorang anak yang duduk di kursi roda, di depan komputernya. Anak itu kurus, kakinya seperti mengerut. Kepalanya miring ke satu sisi, dan ketika ia menjawab, kata-katanya sulit dimengerti. la mesti bersusah payah mengucapkannya dan di sudut mulutnya mengalir liur sedikit. "Anak-anak lain melihatku berbeda dari mereka. Sulit bagiku untuk berbicara dan dimengerti. Tapi di Internet, mereka mengira aku anak biasa, sebab mereka tak bisa melihatku. Aku bersahabat dengan banyak orang," Joey menjelaskan. Sepanjang hari, di sekolah, pikiran Andy dipenuhi berbagai hal. Teman Internetnya, Joey; Joey si makhluk asing; Joey si anak di TV; teman-teman baru di Denver; Nenek dan kursi rodanya. Begitu tiba di rumah, Andy lari ke kamarnya, melemparkan ranselnya ke tempat tidur, dan duduk di depan komputernya. Sambil mengadakan sambungan ke Internet, Andy memutuskan bahwa tidak masalah dari mana joey berasal —entah dari Mars, Saturnus, ataupun Tallahassee. Tidak masalah seperti apa rupa Joey. Aku tahu siapa Joey. Joey adalah temanku.


Andy mengetik di komputernya,
"Joey, coba tebak.
Kami akan pindah ke Denver.
Wah, aku senang punya teman yang bisa ikut denganku
ke mana pun aku pergi."

Joanne Peterson

Meja Kayu

Suatu ketika,
ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya.
Selain itu, tinggal pula menantu,
dan anak mereka yang berusia 6 tahun.
Tangan orangtua ini begitu rapuh,
dan sering bergerak tak menentu.
Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih.

Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan.
Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya.
Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun,
membuatnya susah untuk menyantap makanan.
Sendok dan garpu kerap jatuh Ke bawah.

Saat si kakek meraih gelas,
segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.
Anak dan menantunya pun menjadi gusar.
Mereka merasa direpotkan dengan semua ini.

"Kita harus lakukan sesuatu," ujar sang suami.
"Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini."

Lalu,
kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan.
Di sana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian,
saat semuanya menyantap makanan.
Karena sering memecahkan piring,
keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.





Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka,
terdengar isak sedih dari sudut ruangan.
Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek.
Meski tak ada gugatan darinya.
Tiap kali nasi yang dia suap,
selalu ditetesi air mata yang jatuh dari sisi pipinya.
Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan
agar ia tak menjatuhkan makanan lagi.

Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.
Suatu malam, sebelum tidur,
sang ayah memperhatikan anaknya
yang sedang memainkan mainan kayu.
Dengan lembut ditanyalah anak itu.
"Kamu sedang membuat apa?".

Anaknya menjawab,
"Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu,
untuk makan saatku besar nanti.
Nanti, akan kuletakkan di sudut itu,
dekat tempat kakek biasa makan."
Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul.
Mereka tak mampu berkata-kata lagi.
Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka.
Walau tak ada kata-kata yang terucap,
kedua orangtua ini mengerti,
ada sesuatu yang harus diperbaiki.

Mereka makan bersama di meja makan.
Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh,
makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda.
Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.
Dan anak itu, tak lagi meraut untuk membuat meja kayu.




Sahabat,
anak-anak adalah persepsi dari kita.
Mata mereka akan selalu mengamati,
telinga mereka akan selalu menyimak,
dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan.

Mereka adalah peniru.
Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan,
hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak.
Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari,
setiap "bangunan jiwa" yang disusun,
adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak.
Untuk anak-anak kita,
untuk masa depan kita, untuk semuanya.
Sebab, untuk merekalah kita akan selalu belajar,
bahwa berbuat baik pada orang lain,
adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

Jika anak hidup dalam kritik,
ia belajar mengutuk.
Jika anak hidup dalam kekerasan,
ia belajar berkelahi.
Jika anak hidup dalam pembodohan,
ia belajar jadi pemalu.
Jika anak hidup dalam rasa dipermalukan,
ia belajar terus merasa bersalah.
Jika anak hidup dalam toleransi,
ia belajar menjadi sabar.
Jika anak hidup dalam dorongan,
ia belajar menjadi percaya diri.
Jika anak hidup dalam penghargaan,
ia belajar mengapresiasi.
Jika anak hidup dalam rasa adil,
ia belajar keadilan.
Jika anak hidup dalam rasa aman,
ia belajar yakin.
Jika anak hidup dalam persetujuan,
ia belajar menghargai diri sendiri.
Jika anak hidup dalam rasa diterima dan persahabatan,
ia belajar mencari cinta di seluruh dunia.

I miss you so much

Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa
apapun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita.
Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan
maka kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula.
Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau keburukan
maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula.

Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman
pribadi yang terjadi pada 2003.

Pada September-Oktober 2003
isteri saya terbaring di salah satu rumah sakit di Jakarta.
Sudah tiga pekan para dokter belum mampu
mendeteksi penyakit yang diidapnya.
Dia sedang hamil 8 bulan.
Panasnya sangat tinggi.
Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah terbujur di ruang ICU.
Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel
yang tersambung ke sebuah layar monitor.

Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya.

Dokter berkata,
"Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu".

Sayapun menjawab
"Mengapa dokter meminta izin saya?
Bukankan setiap pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek
dokter tidak meminta izin saya"

Dokter itu menjawab
"Karena obat yang ini mahal Pak Jamil."

"Memang harganya berapa dok?" Tanya saya.

Dokter itu dengan mantap menjawab
"Dua belas juta rupiah sekali suntik."

"Haahh 12 juta rupiah dok,
lantas sehari berapa kali suntik, dok?

Dokter itu menjawab,
"Sehari tiga kali suntik pak Jamil".

Setelah menarik napas panjang saya berkata,
"Berarti satu hari tiga puluh enam juta, dok?"
Saat itu butiran air bening mengalir di pipi.

Dengan suara bergetar saya berkata,
"Dokter tolong usahakan sekali lagi mencari penyakit isteriku,
sementara saya akan berdoa kepada Yang Maha Kuasa
agar penyakit istri saya segera ditemukan."

"Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami
bahkan kami telah meminta bantuan berbagai laboratorium
dan penyakit istri Bapak tidak bisa kami deteksi secara tepat,

kami harus sangat hati-hati memberi obat
karena istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan,
baiklah kami akan coba satu kali lagi
tapi kalau tidak ditemukan
kami harus mengganti obatnya, pak." jawab dokter.

Setelah percakapan itu usai,
saya pergi menuju mushola kecil dekat ruang ICU.
Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa,

"Ya Allah Ya Tuhanku...
aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba- Mu,
akupun mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan
pasti akan Engkau balas
dan akupun mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah aku lakukan
juga akan Engkau balas.
Ya Tuhanku...
gerangan keburukan apa yang pernah aku lakukan
sehingga Engkau uji aku dengan sakit isteriku yang berkepanjangan,
tabunganku telah terkuras,
tenaga dan pikiranku begitu lelah.
Berikan aku petunjuk Ya Tuhanku.
Engkau Maha Tahu
bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher nyamuk.
Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu.
Aku pasrah kepada Mu Ya Tuhanku.
Sembuhkanlah istriku.
Bagimu amat mudah menyembuhkan istriku,
semudah Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini."

Ketika saya sedang berdoa itu
tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan kejadian puluhan tahun yang lalu.
Ketika itu, saya hidup dalam keluarga yang miskin papa.
Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya sekolah
yang hanya Rp. 25 per bulan.
Akhirnya saya memberanikan diri mencuri uang ibu saya
yang hanya Rp. 125.
Saya ambil uang itu,
Rp 75 saya gunakan untuk membayar SPP,
sisanya saya gunakan untuk jajan.

Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang
ia menangis sambil terbata berkata,
"Pokoknya yang ngambil uangku kualat...
yang ngambil uangku kualat..."
Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh ibuku.
Melihat hal itu saya hanya terdiam
dan tak berani mengaku bahwa sayalah yang mengambil uang itu.

Usai berdoa saya merenung, "
Jangan-jangan inilah hukum alam dan ketentuan Yang Maha Kuasa
bahwa bila saya berbuat keburukan
maka saya akan memperoleh keburukan.
Dan keburukan yang saya terima adalah
penyakit isteri saya ini
karena saya pernah menyakiti ibu saya
dengan mengambil uang yang ia miliki itu."

Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor telepon rumah
dimana ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati saya.
Setelah salam dan menanyakan kondisi anak-anak di rumah,
maka saya bertanya kepada ibu saya
"Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan uang
sebayak seratus dua puluh lima rupiah
beberapa puluh tahun yang lalu?"

"Sampai kapanpun ibu ingat Mil.
Kualat yang ngambil uang itu Mil,
Uang itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang,
kok ya tega- teganya ada yang ngambil,"
jawab ibu saya dari balik telepon.

Mendengar jawaban itu saya menutup mata perlahan,
butiran air mata mengalir di pipi.

Sambil terbata saya berkata,
"Ibu, maafkan saya...
yang ngambil uang itu saya, bu...
saya minta maaf sama ibu.
Saya minta maaaaf...
saat nanti ketemu saya akan sungkem sama ibu,
saya jahat telah tega sama ibu."

Suasana hening sejenak.
Tidak berapa lama kemudian dari balik telepon
saya dengar ibu saya berkata:

"Ya Tuhan pernyataanku aku cabut,
yang ngambil uangku tidak kualat,
aku maafkan dia.
Ternyata yang ngambil adalah anak laki-lakiku.
Jamil kamu nggak usah pikirin dan doakan saja isterimu
agar cepat sembuh."

Setelah memastikan bahwa ibu saya telah memaafkan saya,
maka saya akhiri percakapan dengan memohon doa darinya.

Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter,
setibanya di ruangan sambil mengulurkan tangan kepada saya
sang dokter berkata
"Selamat pak,
penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas.
Ibu telah kami obati dan panasnya telah turun,
setelah ini kami akan operasi untuk mengeluarkan bayi dari perut ibu."

Bulu kuduk saya merinding mendengarnya,
sambil menjabat erat tangan sang dokter saya berkata.
"Terima kasih dokter,
semoga Tuhan membalas semua kebaikan dokter."



Saya meninggalkan ruangan dokter itu....
dengan berbisik pada diri sendiri

"Ibu, I miss you so much."

Sumber: "Ibu, I Miss You So Much" oleh Jamil Azzaini, Senior Trainer dan
penulis buku Best Seller 'KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih
Sukses dan Kemuliaan Hidup'.