Shay

Di Brooklyn, New York,
Cush adalah sebuah sekolah luar biasa bagi anak-anak cacat.
Beberapa anak tetap tinggal di Cush selama masa sekolahnya.
Sedangkan yang lain diperbolehkan melanjutkan ke sekolah biasa.

Pada suatu malam pengumpulan dana,
salah seorang ayah yang anaknya bersekolah di Cush
memberikan pidato yang tak terlupakan oleh para hadirin.

Setelah memuji sekolah dan para staff
yang telah menunjukkan dedikasinya yang tinggi,
ia menangis,
"Dimanakah kesempurnaan diri anak saya, Shay ?
Bukankah semua yang Tuhan ciptakan adalah sempurna ?
Tetapi mengapa anak saya tidak bisa mengerti sebagaimana anak-anak lain ?
Mengapa anak saya tidak bisa mengingat angka dan gambar
sebagaimana anak-anak lain ?

Di manakah kesempurnaan Tuhan ?"

Para hadirin amat terkejut,
tersentuh dengan kesedihan si ayah dan terdiam oleh pertanyaan itu.

"Saya percaya," jawab si ayah,
"bahwa ketika Tuhan melahirkan seorang anak seperti anak saya ke dunia ini, kesempurnaan yang dicarinya terletak pada
bagaimana perlakuan orang-orang lain terhadap anak itu".

Kemudian ia menceritakan kisah berikut ini mengenai anaknya, Shay.

Suatu sore,
Shay dan ayahnya berjalan-jalan melintasi taman
di mana beberapa anak lelaki yang Shay kenal sedang bermain Baseball.
Shay memohon pada ayahnya,
"Yah, menurut ayah,
apakah mereka membolehkan saya ikut bermain ?"

Ayah Shay mengerti bahwa anaknya tidak memiliki kemampuan atletik
dan pasti semua anak lelaki takkan mengijinkan bermain dalam tim mereka.
Tetapi, ayah Shay mengerti juga
bahwa jika anaknya bisa ikut bermain maka Shay
akan merasakan kebahagiaan bisa turut memiliki.

Kemudian, ayah Shay mendekati seorang anak lelaki yang ada di lapangan itu
dan bertanya kalau-kalau Shay boleh ikut bermain.
Anak lelaki itu melihat ke sekeliling meminta pertimbangan
dari rekan-rekan lainnya.
Karena tak ada yang memberikan pertimbangan,
ia memutuskan sendiri dan katanya,
"Kami sedang kalah enam angka,
sedangkan pertandingan ini berlangsung sembilan inning.
Saya pikir anak anda bisa bergabung dalam tim.
Kami akan menempatkannya sebagai pemukul di inning ke sembilan."

Ayah Shay amat senang.
Shay pun tersenyum lebar.
Shay diminta untuk mengenakan sarung tangan
dan menunggu di barisan tunggu luar lapangan.
Di akhir inning ke delapan,
tim Shay memperoleh beberapa angka tetapi tetap tertinggal tiga angka
dari tim lawan.
Kemudian di inning ke sembilan mereka memperoleh angka lagi.
Dua orang berhasil berdiri di base
dan siap-siap untuk memperoleh kemenangan angka.
Kini tiba giliran Shay memukul.
Apakah tim Shay akan benar-benar memasukkan Shay sebagai pemukul berikutnya
dan mengambil resiko untuk kemenangan mereka
yang sudah berada di dalam genggaman ?

Amat mengejutkan,
Shay diijinkan untuk memukul.
Semua orang tahu bahwa hal itu hampir-hampir mustahil
karena Shay sama sekali tidak tahu bagaimana memegang tongkat pemukul baseball. Bagaimana pun Shay maju ke papan pemukul,
pitcher bergerak beberapa langkah
dan melemparkan bola itu perlahan ke arah Shay
sehingga memungkinkan Shay untuk menyentuh bola itu.

Lemparan pertama dilakukan.
Shay memukul tanpa arah dan gagal.
Salah seorang teman Shay mendekati dan bersama-sama
mereka memegang pemukul itu dan menghadapi sang pitcher
yang sudah bersiap-siap untuk meleparkan bola kedua.

Sekali lagi si pitcher maju beberapa langkah
dan melemparkan bola itu dengan perlahan sekali ke arah Shay.
Ketika bola dilemparkan,
Shay dan rekannya yang membantu memegangi tongkat pemukul itu
akhirnya bisa memukul bola itu perlahan sekali ke arah pitcher.

Sang pitcher menangkap bola yang menggelinding di tanah dengan
perlahan.
Ia harus melemparkan bola itu ke penjaga di base pertama.
Dengan demikian Shay bisa saja gagal mencapai base pertama,
keluar dari pertandingan dan timnya pasti menderita kekalahan.

Tapi apa yang terjadi?
Si Pitcher melemparkan bola itu ke kanan
jauh ke atas melewati kepala penjaga base pertama sehingga tak terjangkau.
Semua orang lalu berteriak-teriak,
"Shay, ayo lari ke base pertama.
Lari ke base pertama".

Belum pernah selama hidupnya Shay lari ke base pertama.
Ia tergesa-gesa lari ke base pertama,
bola matanya berbinar-binar.
Ketika ia tiba di base pertama,
penjaga base di sebelah kanan memungut bola.
Ia bisa saja melemparkan bola itu ke penjaga base kedua
yang akan mengalahkan Shay,
tetapi ia melempar bola itu jauh ke atas kepala
sehingga tak tertangkap oleh penjaga base kedua.

Lalu semua orang berteriak,
"Shay, ayo lari ke base kedua,
ayo lari ke base kedua."
Shay lari ke base kedua.
Begitu itu tiba di base kedua,
penjaga tim lawan melempar bola jauh ke atas
sehingga tak terjangkau oleh penjaga base ke tiga.
Lalu mereka semua berteriak
agar Shay lari ke base ketiga.

Ketika Shay menyentuh base ketiga,
semua anak di kedua tim yang sedang saling berlawanan itu berteriak,
"Ayo Shay, lari sampai akhir base.
Lari sampai akhir base !"
Maka Shay pun berlari sampai ke akhir base,
menginjak papan base terakhir.
Serentak ke delapan belas anak yang sedang bermain itu
memeluk dan mengangkat Shay di atas pundak
dan membuatnya seperti pahlawan kemenangan untuk timnya.




"Pada hari itu," kata ayah Shay dengan lembut,
mata yang berkaca-kaca kini tak tahan meneteskan air mata,
"kedelapan belas anak lelaki itu telah menemukan kesempurnaan Tuhan".

Kuda Penari

Pertama kali Bart bercerita kepadaku tentang kudanya,
Dude,
aku tahu bahwa di antara mereka ada sebuah ikatan yang khusus.
Akan tetapi, aku tidak pernah menyangka bahwa
Dude akan mengirimiku sebuah hadiah yang mengesankan.

Karena dibesarkan dalam sebuah keluarga petani turun-temurun di Tennessee,
Bart sayang kepada semua hewan.
Tapi Dude,
seekor kuda tunggang berwarna cokelat kemerahan
yang diterimanya ketika ia menginjak usia sembilan tahun,
menjadi hewan kesayangannya.

Bertahun-tahun kemudian
ketika ayah Bart menjual Dude,
Bart memendam kesedihan yang luar biasa.
Bahkan sebelum bertemu dan menikah dengan Bart,
aku tahu betul rasanya memendam kesedihan.
Karena pekerjaan ayahku,
keluarga kami harus pindah setiap tahun.

Jauh di dalam hatiku,
aku ingin bisa menetap di satu tempat,
sehingga aku dapat menjalin persahabatan yang cukup lama.
Tapi aku tidak pernah mengungkapkannya kepada orangtuaku.
Aku tidak ingin melukai hati mereka.
Namun, kadang-kadang aku ragu
apakah Tuhan dapat terus mengikuti kami.

Pada suatu malam musim panas tahun 1987,
ketika Bart dan aku sedang berayun di sebuah kursi gantung
di beranda depan rumah kami,
tiba-tiba suamiku bercerita,

"Pernahkah aku bercerita
bahwa Dude pernah memenangkan Kejuaraan Dunia Racking Horse?"

"Kejuaraan rocking horse?" tanyaku.

"Racking," kata Bart membetulkan sambil tersenyum ramah.
"Semacam tarian khusus untuk kuda.
Keterampilan ini memerlukan latihan yang lama.
Kita harus menggunakan empat buah tali kekang.
Sulit sekali."
Bart mengarahkan pandangannya ke padang penggembalaan.

"Dude menjadi kuda terbaik dalam perlombaan ini."
"Lalu mengapa kau membiarkan ayahmu menjualnya?" tanyaku menyelidik.
"Aku sama sekali tidak menduga bahwa ia akan melakukannya," jelas Bart.
"Ketika usiaku tujuh belas,
aku beberapa lama bekerja dalam bidang konstruksi di Florida.
Mungkin Ayah mengira aku tidak akan berkuda lagi,
maka ia menjual Dude tanpa meminta pendapatku dahulu.
Kau tahu bahwa bergerak dalam usaha peternakan ini
berarti orang harus selalu membeli dan menjual kuda.

"Aku selalu terpikir tentang apakah kuda itu merindukanku
sebagaimana rasa kehilangan yang kurasakan.
Aku tidak pernah mempunyai keberanian untuk mencoba menemukannya.
Aku tidak akan tahan kalau sampai tahu andaikata nasibnya buruk..."
Suara Bart seperti hilang ditelan angin.

Setelah itu, beberapa malam berlalu,
namun Bart tidak pernah menyinggung masalah Dude lagi.
Aku ikut berduka mendengar ceritanya.
Aku tidak tahu harus berbuat apa.
Pada suatu petang ketika aku sedang berjalan di padang penggembalaan,
sebuah pikiran aneh muncul dalam benakku.
Seolah-olah ada sebuah suara halus berbisik dalam hatiku,
"Lori, coba carikan Dude untuk Bart."

Sungguh sesuatu yang mustahil! pikirku.
Aku tidak tahu apa pun tentang kuda,
apalagi untuk mencari dan membelinya.
Itu keahlian Bart.

Makin keras aku berusaha menghalau pikiran itu,
makin kuat desakan yang kurasakan.
Aku tidak berani menceritakan kejadian ini kepada siapa pun kecuali Tuhan.
Setiap hari aku meminta kepada-Nya untuk membimbingku.

Pada suatu Sabtu pagi,
tiga pekan setelah bisikan pertama untuk mencari Dude,
seorang pembaca meter, Pak Parker, datang
ketika aku sedang bekerja di kebun.
Entah bagaimana aku terlibat dalam percakapan yang akrab.
Ketika ia bercerita bahwa ia pernah membeli seekor kuda dari ayah Bart,
aku memotong.

"Ingatkah Anda nama kuda itu?" tanyaku.
"Tentu," kata Pak Parker.
"Dude. Saya membelinya dua ratus lima puluh dolar."

Aku membersihkan debu dari tanganku
dan langsung melompat berdiri, tanpa sempat mengatur napas.

"Tahukah Anda nasib kuda itu?" tanyaku.
"Ya. Saya menjualnya lagi dengan keuntungan yang lumayan."

"Di manakah Dude sekarang?" tanyaku.
"Saya harus me-nemukannya."

"Itu tidak mungkin," jelas Pak Parker.
"Saya menjual kuda itu bertahun-tahun lampau.
Bahkan sekarang mungkin ia sudah mati."

"Tapi... bersediakah Anda mencoba membantu saya menemukan kuda itu?"

Setelah aku menjelaskan situasinya,
Pak Parker menatapku dengan tajam cukup lama.
Akhirnya, ia setuju untuk ikut mencari Dude,
dan berjanji tidak mengatakan apa pun kepada Bart.

Setiap Jumat selama hampir satu tahun,
aku menelepon Pak Parker
untuk mengetahui apakah upayanya telah menghasilkan sesuatu.
Tiap minggu jawabannya sama,
"Maaf, belum ada kabar."

Pada suatu Jumat aku menelepon Pak Parker dengan sebuah gagasan lain.
"Dapatkah Anda menemukan salah satu turunan Dude untuk saya?"
"Wah, itu mustahil," jawabnya sambil tertawa.
"Dude seekor kuda kebiri."

"Tidak jadi soal," sahutku.
"Saya tidak keberatan menda-patkan anak kuda kebiri."

"Ah, rupanya Anda belum paham."
Pak Parker menerangkan bahwa kuda kebiri adalah
kuda yang tidak dapat membuahkan keturunan.

Sesudah itu tampaknya ia melipat-gandakan upayanya untuk menolongku.
Beberapa pekan kemudian, ia meneleponku pada hari Senin.

"Saya menemukannya," teriaknya.
"Saya menemukan Dude."
"Di mana?" Aku sampai ingin melompat-lompat karena kegirangan.
"Di sebuah peternakan di Georgia," kata Pak Parker.
"Ada keluarga yang membeli Dude untuk anak remaja mereka.
Tapi mereka tidak bisa berbuat apa pun dengan kuda itu.
Bahkan, mereka mengira kuda itu gila.
Mungkin berbahaya.
Pasti Anda dapat memperolehnya kembali dengan mudah sekali."

Pak Parker benar.
Aku menelepon keluarga itu di Rising Fawn, Georgia,
dan membuat penawaran untuk membeli Dude kembali
dengan harga tiga ratus dolar.
Aku berjuang untuk menjaga rahasia ini sampai akhir pekan.

Pada hari Jumat,
aku menyambut Bart di depan pintu sepulangnya dari bekerja.

"Maukah kau ikut denganku?" bujukku selembut mungkin.
"Aku mempunyai sebuah kejutan untukmu."
"Sayang," protes Bart, "aku lelah."

"Tolonglah, Bart,
aku telah menyiapkan bekal untuk piknik.
Pasti menyenangkan.
Aku janji."

Bart masuk ke dalam Jeep.
Waktu mengemudi, jantungku berdegup begitu kencang
sampai kupikir akan meledak ketika aku berusaha menutupinya
dengan obrolan seputar masalah keluarga.

"Ke mana tujuan kita?"
tanya Bart setelah lewat dari tiga puluh menit.

"Sebentar lagi sampai," jawabku.
Bart mengeluh.
"Sayang, aku mencintaimu.
Tapi aku tidak percaya mengapa kau kubiarkan membawaku ke mari."

Aku tidak melawan.
Aku telah menunggu begitu lama
dan tidak ingin mengacaukannya menjelang saat-saat terakhir.

Kendatipun demikian,
ketika aku berbelok ke luar dari jalan raya,
masuk ke sebuah jalan tak beraspal,
Bart begitu marah sehingga tidak mau diajak bicara.
Dan ketika aku berbelok lagi ke jalan yang lebih buruk,
Bart melotot dengan marah.

"Kita sudah sampai," kataku,
sambil berhenti di depan pagar sebuah padang penggembalaan.

"Di sini di mana? Lori,
apakah kau tidak waras?" bentak Bart.

"Jangan berteriak," kataku. "Bersiul."
"Apa?" teriak Bart.
"Bersiul," ulangku.
"Seperti yang dahulu sering kau lakukan...
untuk memanggil Dude...
Bersiul sajalah.
Kau akan mengerti dengan sendirinya."

"Baiklah...
Aku... Aku pikir ini gila,"
geram Bart sambil turun dari Jeep.

Bart bersiul.
Tidak terjadi apa pun.
"Ya, Tuhan," kataku dalam hati,
"jangan sampai gagal."

"Coba sekali lagi," desakku.
Bart bersiul sekali lagi.
Tiba-tiba, dari tepi cakrawala,
seekor kuda berderap kencang.
Belum lagi aku sempat membuka mulut,
Bart telah melompati pagar.

"Dude!" teriaknya,
sambil berlari memburu sahabat tersayangnya.

Dengan pandangan kabur, aku melihat kuda dan suamiku bertemu
seperti tayangan gerak lambat adegan pertemuan di televisi.

Bart langsung melompat ke punggung sang sahabat,
mengusap bulu tengkuknya, dan menepuk-nepuk lehernya.

Tiba-tiba, seorang remaja pengunyah tembakau,
berambut cokelat kekuningan, beserta orangtuanya,
muncul dari balik bukit dengan wajah tidak senang.

"Tuan," teriak sang remaja. "Apa yang Anda perbuat?
Kuda itu gila.
Tidak ada yang sanggup menjinakkannya."

"Tidak," sahut Bart.
"la tidak gila. Namanya Dude."

Yang mengejutkan semua orang,
dengan perintah lembut dari Bart,
Dude, si kuda liar, menjulurkan kepalanya ke atas dan mulai menari.
Sementara kuda itu beraksi sambil berkeliling,
tidak ada yang bicara.
Ketika Dude selesai menarikan tarian kegembiraannya,
Bart meluncur turun dari punggungnya.

"Aku ingin membawa Dude pulang," katanya.
"Aku tahu," kataku dengan mata berkaca-kaca.
"Semua urusan telah kuselesaikan.
Kita dapat kembali lagi untuk mengambilnya."

"Tidak," tegas Bart.
"la pulang malam ini juga."

Aku menelepon iparku,
lalu mereka datang membawa trailer untuk mengangkut kuda.
Kami membayar harga Dude kemudian pulang ke rumah.

Bart menghabiskan malam itu di kandang.
Aku tahu ia dan Dude perlu waktu banyak untuk saling melepas rindu.
Waktu memandang ke luar melalui jendela kamar tidur,
bulan terasa memancarkan cahaya hangat ke seluruh peternakan kami.
Aku tersenyum,
mengingat aku dan suamiku sekarang mempunyai sebuah cerita indah
untuk diceritakan kepada anak-anak dan cucu-cucu di masa mendatang.




"Terima kasih, Tuhan," bisikku.
Kebenaran telah menyentuhku.
Aku mencari Dude lebih lama daripada masa tinggalku di satu tempat.
Tuhan telah menggunakan proses pencarian kuda kesayangan suamiku
untuk memperbarui kepercayaanku kepada seorang teman
yang terus berada lebih dekat daripada saudaraku sendiri.

"Terima kasih, Tuhan," bisikku lagi menjelang terlelap.
"Terima kasih karena Engkau tidak pernah melepaskan pengawasanmu
terhadap Dude—
atau aku sendiri."

Lori Bledsoe

Buku Telephone

Suatu ketika di ruang kelas sekolah menengah,
terlihat suatu percakapan yang menarik.
Seorang Pak Guru, dengan buku di tangan,
tampak menanyakan sesuatu kepada murid-muridnya di depan kelas.
Sementara itu, dari mulutnya keluar sebuah pertanyaan.

" Anak-anak,
kita sudah hampir memasuki saat-saat terakhir bersekolah di sini.
Setelah 3 tahun,
pencapaian terbesar apa yang membuat kalian bahagia ?
Adakah hal-hal besar yang kalian peroleh selama ini ?"

Murid-murid tampak saling pandang.

Terdengar suara lagi dari Pak Guru,
" Ya, ceritakanlah satu hal terbesar
yang terjadi dalam hidup kalian ..."

Lagi-lagi semua murid saling pandang,
hingga kemudian tangan Pak Guru itu menunjuk pada seorang murid.

" Nah, kamu yang berkacamata,
adakah hal besar yang kamu temui ?
Berbagilah dengan teman-temanmu ..."

Sesaat, terlontar sebuah cerita dari si murid,

" Seminggu yang lalu,
adalah saat-saat yang sangat besar buat saya.
Orang tua saya, baru saja membelikan sebuah motor,
persis seperti yang saya impikan selama ini."

Matanya berbinar,
tangannya tampak seperti sedang menunggang sesuatu.

" Motor sport dengan lampu yang berkilat,
pasti tak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan itu !"

Pak Guru tersenyum.
Tangannya menunjuk beberapa murid lainnya.
Maka, terdengarlah beragam cerita dari murid-murid yang hadir.

Ada anak yang baru saja mendapatkan sebuah mobil.
Ada pula yang baru dapat melewatkan liburan di luar negeri.
Sementara, ada murid yang bercerita tentang keberhasilannya mendaki gunung.

Semuanya bercerita tentang hal-hal besar yang mereka temui
dan mereka dapatkan.
Hampir semua telah bicara,
hingga terdengar suara dari arah belakang.

" Pak Guru ... Pak, saya belum bercerita."

Rupanya, ada seorang anak di pojok kanan yang luput dipanggil.
Matanya berbinar.
Mata yang sama seperti saat anak-anak lainnya
bercerita tentang kisah besar yang mereka punya.

" Maaf, silahkan, ayo berbagi dengan kami semua,"
ujar Pak Guru kepada murid berambut lurus itu.

" Apa hal terbesar yang kamu dapatkan ?"
ujar Pak Guru mengulang pertanyaannya kembali.

" Keberhasilan terbesar buat saya,
dan juga buat keluarga saya adalah ...
saat nama keluarga kami
tercantum dalam Buku Telepon yang baru terbit 3 hari yang lalu."

Sesaat senyap.
Tak sedetik, terdengar tawa-tawa kecil yang memenuhi ruangan kelas itu.
Ada yang tersenyum simpul,
terkikik-kikik,
bahkan tertawa terbahak mendengar cerita itu.

Dari sudut kelas, ada yang berkomentar,
" Ha ? Saya sudah sejak lahir menemukan nama keluarga saya di Buku Telepon.
Buku Telepon ?
Betapa menyedihkan ... hahaha ..."

Dari sudut lain, ada pula yang menimpali,
" Apa tak ada hal besar lain yang kamu dapat
selain hal yang lumrah semacam itu ?"

Lagi-lagi terdengar derai-derai tawa kecil yang masih memenuhi ruangan.
Pak Guru berusaha menengahi situasi ini,
sambil mengangkat tangan.

" Tenang sebentar anak-anak,
kita belum mendengar cerita selanjutnya.
Silahkan teruskan, Nak ..."

Anak berambut lurus itu pun kembali angkat bicara.
" Ya, memang itulah kebahagiaan terbesar yang pernah saya dapatkan.

Dulu, Papa saya bukanlah orang baik-baik.
Karenanya, kami sering berpindah-pindah rumah.
Kami tak pernah menetap,
karena selalu merasa di kejar polisi."

Matanya tampak menerawang.
Ada bias pantulan cermin dari kedua bola mata anak itu,
dan ia melanjutkan.

" Tapi, kini Papa telah berubah.
Dia telah mau menjadi Papa yang baik buat keluarga saya.
Sayang, semua itu butuh waktu dan usaha.

Tak pernah ada Bank dan Yayasan
yang mau memberikan pinjaman modal buat bekerja.
Hingga setahun lalu,
ada seseorang yang rela meminjamkan modal buat Papa saya.

Dan kini, Papa berhasil.
Bukan hanya itu,
Papa juga membeli sebuah rumah kecil buat kami.
Dan kami tak perlu berpindah-pindah lagi."

" Tahukah kalian,
apa artinya kalau nama keluarga saya ada di Buku Telepon ?

Itu artinya,
saya tak perlu lagi merasa takut setiap malam dibangunkan Papa
untuk terus berlari.

Itu artinya,
saya tak perlu lagi kehilangan teman-teman yang saya sayangi.

Itu juga berarti,
saya tak harus tidur di dalam mobil setiap malam yang dingin.

Dan itu artinya, saya, dan juga keluarga saya,
adalah sama derajatnya dengan keluarga-keluarga lainnya."

Matanya kembali menerawang.
Ada bulir bening yang mengalir.

" Itu artinya,
akan ada harapan-harapan baru yang saya dapatkan nanti ..."

Kelas terdiam.
Pak Guru tersenyum haru.
Murid-murid tertunduk.

Mereka baru saja menyaksikan sebuah fragmen tentang kehidupan.
Mereka juga baru saja mendapatkan hikmah
tentang pencapaian besar,
dan kebahagiaan.



Mereka juga belajar satu hal :
" Bersyukurlah dan berbahagialah
setiap kali kita mendengar keberhasilan orang lain.
Sekecil apapun ...
Sebesar apapun ..."

Operator

Waktu saya masih amat kecil,
ayah sudah memiliki telepon di rumah kami.
Inilah telepon masa awal, warnanya hitam,
di tempelkan di dinding,
dan kalau mau menghubungi operator,
kita harus memutar sebuah putaran
dan minta disambungkan dengan nomor telepon lain.
Sang operator akan menghubungkan secara manual.

Dalam waktu singkat, saya menemukan bahwa ,
kalau putaran di putar,
sebuah suara yang ramah, manis, akan berkata :
"Operator"
Dan si operator ini maha tahu.
Ia tahu semua nomor telepon orang lain.!
Ia tahu nomor telepon restoran,
rumah sakit,
bahkan nomor telepon toko kue di ujung kota.

Pengalaman pertama dengan sang operator terjadi
waktu tidak ada seorangpun dirumah,
dan jempol kiri saya terjepit pintu.
Saya berputar putar kesakitan dan memasukkan jempol ini
kedalam mulut tatakala saya ingat ….
operator!!

Segera saya putar bidai pemutar dan menanti suaranya.
"Disini operator…"

"Jempol saya kejepit pintu…" kata saya sambil menangis.
Kini emosi bisa meluap, karena ada yang mendengarkan.

"Apakah ibumu ada di rumah ?"tanyanya.

"Tidak ada orang"

"Apakah jempolmu berdarah ?"

"Tidak , cuma warnanya merah, dan sakiiit sekali"

"Bisakah kamu membuka lemari es ?"tanyanya.

"Bisa, naik di bangku"

"Ambillah sepotong es dan tempelkan pada jempolmu…"

Sejak saat itu saya selalu menelpon operator kalau perlu sesuatu.

Waktu tidak bisa menjawab pertanyaan ilmu bumi,
apa nama ibu kota sebuah Negara,
tanya tentang matematik.
Ia juga menjelaskan bahwa
tupai yang saya tangkap untuk dijadikan binatang peliharaan ,
makannya kacang atau buah.

Suatu hari, burung peliharaan saya mati.
Saya telpon sang operator dan melaporkan berita duka cita ini.

Ia mendengarkan semua keluhan,
kemudian mengutarakan kata kata hiburan
yang biasa diutarakan orang dewasa untuk anak kecil yang sedang sedih.
Tapi rasa belasungkawa saya terlalu besar.

Saya tanya :
"Kenapa burung yang pintar menyanyi
dan menimbulkan sukacita sekarang tergeletak tidak bergerak dikandangnya ?"

Ia berkata pelan :
"Karena ia sekarang menyanyi di surga…"

Kata -kata ini - ngga tau bagaimana - menenangkan saya.

Lain kali saya telpon dia lagi.

"Disini operator"

"Bagaimana mengeja kata kukuruyuk?"

Kejadian ini berlangsung sampai saya berusia 9 tahun.
Kami sekeluarga kemudian pindah kota lain.
Saya sangat kehilangan
"Disini operator"

Saya tumbuh jadi remaja, kemudian anak muda,
dan kenangan masa kecil selalu saya nikmati.
Betapa sabarnya wanita ini.
Betapa penuh pengertian dan mau meladeni anak kecil.

Beberapa tahun kemudian, saat jadi mahasiswa,
saya studi trip ke kota asal.

Segera sesudah saya tiba, saya menelpon kantor telepon,
dan minta bagian
"operator"

"Disini operator"

Suara yang sama.
Ramah tamah yang sama.

Saya tanya :"Bisa ngga eja kata kukuruyuk"

Hening sebentar.
Kemudian ada pertanyaan :
"Jempolmu yang kejepit pintu sudah sembuh kan ?"

Saya tertawa.
"Itu Anda….
Wah waktu berlalu begitu cepat ya"

Saya terangkan juga betapa saya berterima kasih
untuk semua pembicaraan waktu masih kecil.
Saya selalu menikmatinya.

Ia berkata serius :
"Saya yang menikmati pembicaraan dengan mu.
Saya selalu menunggu nunggu kau menelpon"

Saya ceritakan bahwa ,
ia menempati tempat khusus di hati saya.
Saya bertanya apa lain kali boleh menelponnya lagi.

"Tentu, nama saya Saly"

Tiga bulan kemudian saya balik ke kota asal.
Telpon operator.
Suara yang sangat beda dan asing.
Saya minta bicara dengan operator yang namanya Saly.

Suara itu bertanya
"Apa Anda temannya ?"

"Ya teman sangat lama"

"Maaf untuk kabarkan hal ini,
Saly beberapa tahun terakhir bekerja paruh waktu karena sakit sakitan.
Ia meninggal lima minggu yang lalu…"

Sebelum saya meletakkan telepon,
tiba tiba suara itu bertanya :
"Maaf,apakah Anda bernama Paul ?"

"Ya"

"Saly meninggalkan sebuah pesan buat Anda.
Dia menulisnya di atas sepotong kertas, sebentar ya….."

Ia kemudian membacakan pesan Saly :
"Bilang pada Paul, bahwa ia sekarang menyanyi di surga…
Paul akan mengerti kata kata ini…."

Saya meletakkan gagang telepon.
Saya tahu apa yang Saly maksudkan.



Jangan sekali sekali mengabaikan,
bagaimana Anda menyentuh hidup orang lain!!